Ramadhan dan Kepedulian Lingkungan
Di penghujung tahun 2025 kemarin, kita menyaksikan bagaimana
banjir dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Banyak saudara kita kehilangan keluarga, harta, bahkan tempat tinggal. Data
BNPB per 14 Januari 2026 mencatat korban jiwa mencapai 1.189 orang. Belum lama,
banjir juga melanda Kota Bontang pada 14 Februari 2026, berdampak pada enam
kelurahan. Musibah ini mengingatkan kita bahwa kerusakan alam bukanlah sekadar
“takdir alamiah”, melainkan akibat ulah manusia sendiri.
Allah Ta’ala sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ
عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah
membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka
kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini secara eksplisit
menginformasikan kepada kita bhawa banjir, longsor, dan bencana lain adalah
buah dari eksploitasi alam berlebihan, penggundulan hutan tanpa reboisasi,
membuang sampah sembarangan di sungai, dan perilaku buruk lainnya.
Nah, Ramadhan bukan hanya soal
menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah bulan latihan kepedulian, kepedulian
kepada sesama manusia, dan juga kepada alam. Kalau kita bisa menahan diri dari
makan siang, masa kita tidak bisa menahan diri untuk tidak buang sampah
sembarangan?
Perubahan tidak harus besar. Yang
penting ada kemauan. Beberapa langkah sederhana bisa berdampak luar biasa:
-
Tidak membuang sampah sembarangan.
-
Menghemat penggunaan air.
-
Menanam pohon atau tanaman di pekarangan.
Bukankah Allah sudah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ
بَعْدَ اِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56).
Mari kita jadikan Ramadhan ini
sebagai momentum untuk menata kembali cara hidup sehari-hari. Kalau biasanya
kita sibuk berburu takjil, jangan sampai kita juga berburu plastik sekali
pakai. Ingat, kalau masjid bersih, jamaah betah. Kalau masjid kotor, jangankan
jamaah, setan pun enggan numpang lewat.
Menjaga lingkungan adalah bagian
dari ibadah. Dengan ikut menjaga bumi, kita sedang menjaga amanah Allah. Semoga
Ramadhan ini bukan hanya membawa berkah, tapi juga membawa kesadaran: bahwa
bumi ini bukan tempat kita buang sampah seenaknya, melainkan ladang amal yang
harus kita rawat bersama.
Pantun 1:
Pergi ke pasar membeli ketupat,
Jangan lupa bawa tas anyaman.
Ramadhan suci hati jadi kuat,
Lingkungan bersih hidup pun nyaman
Pantun 2:
Mobil mewah siapa yang punya,
Warnanya merah sangat menyala.
Buanglah sampah pada tempatnya,
Agar Ramadhan penuh pahala.
Komentar