Menjadikan Bulan Ramadhan sebagai Momentum untuk Bertaubat
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah,
kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan. Dalam
bulan Ramadhan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan dibelenggu.
Jadi kalau masih ada yang malas ibadah, jangan salahkan setan lagi ya.. Mungkin
itu ‘setan dalam diri sendiri’ yang belum ikut dibelenggu.
Baginda
Nabi Saw. bersabda:
إِذَا
جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ،
وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya:
Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka
ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR Bukhari).
Dari
hadis tersebut dapat diambil sebuah Kesimpulan bahwa Ramadhan adalah kesempatan
emas untuk membersihkan diri dari dosa dan bertaubat atas segala salah yang pernah
kita perbuat. Karena di bulan ini hati lebih lembut karena puasa, lingkungan
lebih religius, masjid ramai, dan setan dibelenggu, jadi lebih mudah menjaga
diri.
Syeikh
Muhyiddin Abi Zakaria Yahya bin Syarof An Nawawi atau lebih dikenal dengan Imam
Nawawi menjelaskan dalam Kitab Riyadhus Solihin
فإنْ كَانتِ المَعْصِيَةُ بَيْنَ العَبْدِ
وبَيْنَ اللهِ تَعَالَى لاَ تَتَعلَّقُ بحقّ آدَمِيٍّ فَلَهَا ثَلاثَةُ شُرُوط:
أحَدُها: أَنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ.
والثَّانِي: أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا.
والثَّالثُ: أَنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَدًا.
فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ
تَوبَتُهُ.
وإنْ كَانَتِ المَعْصِيةُ تَتَعَلقُ بآدَمِيٍّ فَشُرُوطُهَا أرْبَعَةٌ: هذِهِ
الثَّلاثَةُ، وأَنْ يَبْرَأَ مِنْ حَقّ صَاحِبِها، فَإِنْ كَانَتْ مالًا أَوْ
نَحْوَهُ رَدَّهُ إِلَيْه، وإنْ كَانَت حَدَّ قَذْفٍ ونَحْوَهُ مَكَّنَهُ مِنْهُ
أَوْ طَلَبَ عَفْوَهُ، وإنْ كَانْت غِيبَةً استَحَلَّهُ مِنْهَا
Imam
Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menjelaskan:
Kalau
dosa kita hanya antara kita dengan Allah, syarat taubat ada tiga:
1. Berhenti dari dosa.
2. Menyesal atas perbuatan dosa.
3. Bertekad tidak mengulanginya lagi.
Kalau
dosa kita menyangkut sesama manusia, syaratnya jadi empat:
1. Berhenti dari dosa.
2. Menyesal.
3. Bertekad tidak mengulanginya.
4. Menyelesaikan urusan dengan orang yang kita
rugikan. Misalnya:
·
Kalau hutang, ya
bayar.
·
Kalau fitnah, ya
minta maaf.
·
Kalau gosip, ya
minta dihalalkan.
Kalau
ada yang bilang: ‘Saya taubat, tapi besok coba lagi.’ Itu bukan taubat, itu
‘trial version’. Taubat itu harus full version, tanpa masa kadaluarsa.”
Mari
kita jadikan Ramadhan sebagai titik balik hidup kita: dari lalai menjadi taat,
dari dosa menuju ampunan. Semoga Allah menerima taubat kita dan menjadikan kita
hamba yang lebih baik setelah Ramadhan.
Kalau
Ramadhan ini kita sukses taubat, insyaAllah setelah lebaran kita bukan hanya
dapat baju baru, tapi juga hati baru. Nah, hati baru ini tidak perlu dicuci
pakai Rinso, cukup dengan istighfar.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar